HIMBAUAN KAMPUS & PENGABDIAN MASYARAKAT
Memasuki musim kemarau dan meningkatnya kerentanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan, khususnya ekosistem lahan rawa lebak dan gambut Kabupaten Hulu Sungai Utara, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai mengajak seluruh sivitas akademika, petani mitra, dan masyarakat luas untuk memperkuat mitigasi pencegahan Karhutla serta melindungi kesehatan keluarga dari ancaman kabut asap dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Dokumentasi Kampanye Edukasi Karhutla & Pencegahan ISPA oleh Duta Mahasiswa STIPER Amuntai.
1. Mengapa Karhutla di Lahan Rawa & Gambut Sangat Berbahaya?
Karakteristik geografis Kabupaten Hulu Sungai Utara yang didominasi oleh perairan rawa lebak dan formasi tanah gambut memiliki keunikan sekaligus kerentanan tinggi saat musim kemarau. Ketika lapisan air rawa surut, hamparan vegetasi semak purun, gulma kalakai, dan lapisan serasah gambut mengering hingga menjadi bahan bakar yang sangat mudah terpicu api.
Kebakaran pada lahan gambut berbeda dengan kebakaran lahan mineral biasa. Api gambut dapat merambat di bawah permukaan tanah (ground fire) tanpa terlihat, menghasilkan asap tebal yang mengandung gas beracun (Karbon Monoksida, Ozon permukaan, dan partikel halus PM2.5), serta sulit dipadamkan meskipun permukaan atas telah disiram air.
Dari sudut pandang keilmuan Agroteknologi dan Agribisnis, praktik membersihkan lahan dengan cara membakar (slash-and-burn) adalah kekeliruan fatal yang merugikan petani sendiri. Pembakaran mematikan mikroorganisme hayati tanah, memusnahkan bahan organik penyubur, merusak porositas tanah rawa, serta menurunkan nilai ekonomi lahan pertanian dalam jangka panjang. STIPER Amuntai konsisten mengedukasi penerapan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) melalui pencacahan residu gulma menjadi pupuk kompos organik maupun mulsa penutup tanah.
2. Langkah-Langkah Konkret Pencegahan Karhutla
Pencegahan merupakan pilar terpenting dalam pengendalian kebakaran. Seluruh elemen masyarakat diharapkan menjadi agen perubahan lingkungan dengan mematuhi prinsip-prinsip berikut:
STOP Buka Lahan dengan Membakar
Hindari metode pembakaran sisa jerami atau semak rawa. Manfaatkan sisa tanaman untuk pupuk bokashi atau bahan organik.
Jangan Buang Puntung Rokok Sembarangan
Bara puntung rokok yang terbuang di tepi jalan atau semak kering adalah salah satu pemicu utama kebakaran liar tak terkendali.
Hindari Membuat Api Unggun di Area Terbuka
Pastikan api padam tuntas dengan air dan timbunan tanah basah apabila melakukan kegiatan perkemahan atau memasak di kebun.
Laporkan Segera Titik Api & Asap
Bila melihat kepulan asap mencurigakan di area rawa atau semak, segera laporkan kepada relawan BPK, aparat desa, atau posko BPBD terdekat.
3. Protokol Perlindungan Diri Menghadapi Polusi Asap
Apabila kabut asap mulai menyelimuti pemukiman dan lingkungan kampus, langkah-langkah proteksi kesehatan harus segera diaktifkan untuk meminimalkan paparan partikulat beracun:
- Gunakan Masker yang Tepat: Gunakan masker standar medis atau masker berdaya filtrasi tinggi (KN95/N95) saat berada di luar ruangan. Masker kain biasa tidak mampu menyaring partikel mikro PM2.5.
- Batasi Aktivitas di Luar Rumah: Kurangi aktivitas fisik berat di luar, berolahraga di dalam ruangan, dan lindungi kelompok rentan (bayi, balita, ibu hamil, serta lansia).
- Kondisikan Ruangan Tertutup Rapat: Tutup pintu dan jendela saat kepekatan asap meningkat. Gunakan penyaring udara sederhana atau kain basah pada celah ventilasi.
- Tingkatkan Konsumsi Air Putih: Minum air putih minimal 2 liter per hari untuk menjaga kelembapan selaput lendir tenggorokan dan mempercepat pengeluaran zat toksik dari tubuh.
- Terapkan Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS): Cuci muka dan tangan dengan sabun setelah bepergian serta konsumsi makanan bergizi kaya antioksidan.
4. Kenali Gejala Paparan Asap & Pencegahan ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu dampak kesehatan paling umum saat terjadi kabut asap. Kenali gejalanya lebih awal agar mendapatkan penanganan yang tepat sebelum terjadi komplikasi:
Gejala Dampak Asap yang Harus Diwaspadai

- Batuk kering atau berdahak yang tak kunjung sembuh.
- Sesak napas atau dada terasa berat saat menghirup udara.
- Mata merah, perih, berair, dan terasa mengganjal.
- Tenggorokan gatal, kering, dan nyeri saat menelan.
Panduan Cegah ISPA & Lindungi Pernapasan

- Gunakan Masker dengan Tepat: Tutup hidung dan mulut dengan rapat tanpa celah samping.
- Cuci Tangan Pakai Sabun: Minimal 20 detik di bawah air mengalir.
- Banyak Minum Air Putih: Jaga kelembapan saluran napas.
- Periksa ke Faskes: Jika batuk atau sesak berlanjut, segera kunjungi Puskesmas terdekat.
Bersama Jaga Banua: Tanpa Asap, Lingkungan Sehat, Pertanian Berkelanjutan
Mari bersama-sama kita jaga kelestarian tanah rawa dan kebersihan udara bumi Hulu Sungai Utara. Satu kepedulian Anda dalam mencegah pembakaran lahan menyelamatkan ribuan nafas generasi masa depan.
